Keluarga Tercinta



Untuk saat itu aku belum memahami bahkan aku tidak tahu sama sekali. Ada sebagian kisah yang ketika aku menulis ini masih menjadi misteri.

Tahun 1997 aku dengar dari mereka bahwa tahun itulah kami pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota di kaki gunung Manglayang yang terletak di Bandung Timur.
 Kami tinggal di suatu komplek perumahan yang dulu harganya terbilang murah untuk ukuran tipe 21.  Perumahan ini cukup luas namun hanya diisi oleh beberapa keluarga saja, sangat sepi. Ibuku membeli rumah ini dari rekan kerjanya sesama guru. Ibuku adalah PNS,  guru,  sudah mengabdi 27 tahun sehingga  ia mampu membeli tiga rumah.

Dua rumah dijadikan satu sebagai rumah utama, letaknya berada di ujung komplek.  Letak rumahnya begitu tersudutkan, kiri kanan belakang adalah rumah kosong. Maklum perumahan ini masih baru. Tepat di depan rumah hanya tanah kosong dengan pepohonan, ada satu pohon besar disana.
Rumah lainnya  berada ditengah perumahan.  Pada saat aku menulis ini rumah itu masih saja kosong. Meskipun sekarang sudah begitu ramai komplek ini. Bahkan orang orang mau membayar mahal untuk rumah reyot yang sudah 20 tahun terbengkalai, mudah saja bagiku untuk menjualnya, tapi tidak untuk sekarang.

Yang aku tahu dari mereka bahwa aku lahir tepat ketika aku pindah kesana, 12 Februari 1997. Ketika itu ayahku dan kakakku memberiku nama Malik Difanagara. Ayahku yang idialis memberikan pengharapan kepada diriku supaya kelak menjadi seorang pemimpin, sehingga diberikannya nama Malik.
Sedangkan Difanagara berasal dari kakakku, mungkin karena menyukai sejarah ia memberikan ide nama Diponegoro, namun untuk penyesuaian karena kami berasal dari suku sunda maka huruf vokalnya diganti dengan “A”.
Ketika aku kecil panggilan kesayangan Bapak untukku ialah “raja” bukan Malik.

BAPAK
Sosok ayahku sangat unik, mungkin kalian akan sulit menemukan sosok seperti ini. Butuh lama untuk ku menyadari siapa dia sebenarnya, justru ketika ia meninggal baru aku tau.

Ya Allah ampuni semua dosa dan kesalahan Beliau, Amiin

Sebagian dia ada pada diriku. Ia terbentuk dari keluarga petani, karakter nasionalisme terbentuk pekat dari didikan kakekku. Maklum karena kakeku hidup dizaman transisi kemerdekaan. Keluarga petani namun memiliki visi maju terhadap masa depan indonesia. Oleh sebab itu, ayah ku satu satunya anak di desa yang disekolahkan hingga ke perguruan tinggi meskipun dari penghasilan petani

IBU
Ibu, aku tak biasa memanggil dengan nama ibu. Aku senang memanggil manja dengan sebutan mamah. Sebab sejak kecil aku selalu berada disampingnya. Ibu ku selalu membawa ku kemanapun ia pergi. Bahkan ketika ia sibuk mengajar. Masih teringat sayup sayup ingatan, aku pernah menggambar di papan tulis saat ibuku sedang mengajar mata kuliah Geografi. Murid murid SMP itu bukannya memperhatikan apa yang ibuku sampaikan, melainkan mereka hanya tertawa melihat tingkah laku anak 5 tahun. Ya, saat itu aku sedang menggambar rumahku sendiri, tidak lupa dengan kura kura menghiasi, aku suka menggambar kura kura.

KAKAK
Tahun 1988 ia lahir, hampir berjarak 10 tahun denganku. Ia adalah sosok pemberani, berani atas apa yang menjadi keputusanya. Sejak kecil ia senang membaca sebab ayahku selalu membelikannya buku bacaan, mulai dari komik buku buku dan koran. Begitu senangnya ia membaca bahkan iklan koran pun tidak lewati. Aku masih teringat ketika di rumah ini terdapat tumpukan ensiklopedia, komik, majalah dan karya sastra milik kakaku, hampir satu lemari penuh besar. Diumurku hingga saat ini belum pernah aku memiliki buku sebangak itu.
 Jiwa kepemimpinannya lekat pada diri. Aku lihat ia memimpin Osis, aktif dalam organisasi pencinta alam, karang taruna, teater dan organisasian lainya, begitu banyak hingga aku tidak ingat nama organisasi yang ia gelutiny. Hobinya mendaki gunung, bersandiwara dalam teater dan menulis puisi. ia ternama dikalangan teman temannya. Bahkan diakhir hayatnya teman temanya begitu kehilangan atas sosok kakaku.  Bahkan 4 tahun pascakematiannya teman temanya masih selalu datang kerumah.
Aku teringat tujuh taun yang lalu acara itu bernama “Tribute to Ariady Fallah” . aku bangga ketika mendengar siapa kakaku sebenarnya

Ya Allah ampuni segala dosa dan kesalahan Beliau, amiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediaman Nenek

Kabari Aku Ya