Secangkir Kopi dan Cuanki

Telah banyak percakapan yang telah kami lewati.  Dan apa yang kami bicarakan? ya, tentu tentang dia, agar percakapan ini terus berjalan, memang memaksa, tetapi dia tetap membalas sehingga aku tetap melanjutkannya, aku merasa kita memiliki banyak kesamaan tentang keluarga. Sudah jelas aku menyukainya.

Sabtu sore aku coba untuk singgah di tempat itu , tampat yang sering kami bicarakan, kedai kopi.
Tempat yang begitu nyaman, tidak heran banyak orang yang singgah di tempat ini, selain itu, tempat ini adalah kediamanya.
Aku berkunjung dengan temanku, sahabatnya. Tidak ada keberanian bagiku untuk berkunjung seorang diri.

Aku memesan sedikit makanan dan secangkir kopi untuk menunggunya tiba. Kabarnya sore ini dia tidak ada disini, kudengar dia sedang pergi.,

Tapi seketika jantungku berdegup mendengar kabar dia akan datang sebentar lagi, diluar dugaan.

Dan dia datang. Seketika jantungku berdegup kencang. Setiap lontaran senyumnya membuatku gugup.

Suasana senja disini begitu indah aku tidak mau pergi dan aku tidak mau menyudahinya.

Tidak seperti yang aku harapkan.. Cahaya senja mulai redup. Ia pun mulai redup. Aku kehilangan senja itu. Senja yang kurindukan diantara secangkir kopi dan seporsi cuanki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kediaman Nenek

Keluarga Tercinta

Kabari Aku Ya